Home » Kegiatan » “Ngaji Laku” HPSN 2019 di Ekoregion Jawa

“Ngaji Laku” HPSN 2019 di Ekoregion Jawa

“Saya ingin merasakan bagaimana beratnya jadi orang kecil, khususnya para pemungut sampah di jalanan malioboro”

Pengejawantahan dari kyai Semar dalam memberikan petunjuk dalam laku dan perilaku “Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara” Harus dan wajib hukumnya mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

Dalam pengertian Hari Peduli Sampah Nasional 2019, Minggu Legi, 17 Maret di Jl. Margo Mulyo Yogyakarta.

Dua tahun absen bersilaturahmi pada kawan-kawan. Beberapa hari lalu alhamdulillah, saya disempatkan Allah kembali bertemu kawan sehati-sejati di sebuah jalan seputaran TUGU Yogya.

Sedikit kaget saat mendapati kawan ini tetap setia dengan tangan-tangan mungilnya untuk berkarya pada dunianya-Dunia Sampah. Tapi saat tahu melihat kawan lama, buru-buru langsung mencari warung kopi untuk bercengkrama, berdiskusi dan bergurau di sela rintik hujan.

Di angkringan kami ngobrol sana-sini, akhirnya sampailah pada pembicaraan tentang lelaku-NYAMPAH yang sempat saya pikirkan di awal tadi.

Oh injih, sakniki kulo madosi sampah [Oh ya, sekarang saya cari sampah],” penjelasan beliau soal adanya kresek hijau bertuliskan DLH Kota Yogyakarta di pangkuanya.

Kaget dan hampir tak percaya jika beliau sekarang Mulung. Sebab beliau yang kukenal sebagai pendidik atau guru dan aktivis. Termasuk orang yang berkecukupan diantara kami untuk kelas hidup di Yogyakarta.

Tapi setelah mendapat penjelasan panjang lebar, timbul rasa percaya bahwa beliau benar-benar cari sampah. Suka duka tukang sampah akhirnya beliau ceritakan, misalnya bagaimana beratnya memikul karung, kresek dalam rute yang panjang, panas, kotor dan kadang harus bersahabat dengan bau menyengat.

Bagaimana rasanya juga ketika mendapati ada orang berbaju seragam yang melempar sampah dibalik mobilnya (tanpa beban langsung tancap gas).

Niki yotro hasil kulo pados sampah [ini uang hasil saya jadi cari sampah],” sambung beliau sambil menunjukkan lembaran uang ribuan rupiah yang terbungkus plastik rapi.

Jadi, selama ini di sela-sela kesibukannya, beliau “ngaji laku” dengan mencari sampah dan bergumul dengan para pemulung, tukang becak dan anak jalanan. Mungkin bisa disebut “nyamar mulung“.

Dengan topi yang cukup untuk menutupi wajah seringkali beliau tidak dikenal termasuk oleh tetangganya.

Kenapa semua ini beliau lakukan? “Saya ingin merasakan bagaimana beratnya jadi orang kecil, khususnya para pemulung,” kata beliau menjelaskan.

Dengan mulung sampah dan bergumul dengan para pemulung, beliau tahu betul betapa susahnya mencari uang Rp 20 ribu dalam sehari. Beliau juga tahu betapa berat beban yang dihadapi mereka. Dan semakin tahu bahwa para pemulung sampah tidak pernah berpikir bahwa ketika jalan margo mulyo menjadi bersih dari sampah yang akan menikmati adalah turis atau orang lain dan bukan dirinya.

“Hari ini banyak undangan resepsi, seharian hujan, hasil pulungan nya basah belum laku dijual, belum bayar arisan lagi,” salah satu keluhan yang beliau terima.

“Bayaran sekolah anak saya nunggak,” keluh pemulung lainya.

Tapi beliau juga merasakan betapa berharganya uang Rp 100 ribu saat bisa berbagi pada mereka. “Bagi kita, uang sebesar itu kan hanya untuk beli bensin, sementara bagi mereka, bisa menyelesaikan beberapa masalah,” komentar beliau.

#

Ah, hari itu kami sedang mendapati bukti laku lampah, ngaji,.. ngaji lakuning urip yang sesungguhnya

2 thoughts on ““Ngaji Laku” HPSN 2019 di Ekoregion Jawa

  1. Har berkata:

    Mantepsss Mas Bro… 👍😊

    1. sugengw berkata:

      siyap

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*