Home » Hakekat hidup » Memilih gagu otak

Memilih gagu otak

Elegi menjelma-nya tengah malam :
Selepas purnama, menuju 16 senen pon esok hari.

Sandal japit biru dipakai “agus” menjalani ritual suro nya ke seluruh masjid patok negoro. Saat di masjid kalikuning, “agus” kehilangan sendal itu.

elegi kan-kian menghampiri, Merasuk dalam sebuah irama beralaskan sandal japit,… sandal yg selalu tetap sandal sebagai alas kaki.

Satu keharusan mengamankan di sekitarnya “masjid”, sampai perlu kehadiran cctv bahkan security utk mengamankan skenario.

Lalu kemudian, kenapa yang dijadikan gagasan idiologi adalah sebuah sandal yg hilang di masjid Pathok negoro kalikuning ?

Waow ….
tak bisakah….
Dg lebih indah, seandainya jikalau apabila, sudut kiri yg diperjelas.

gagasan idiologinya dirobah menjadi : sebuah sandal yg selalu mengantarkan kaki hingga ke masjid-masjid se-antero tanah jawa “jawa yg berarti ngujarke hawa” ya,—- entah mulai dari masjid gede sampai ke masjid kampung, atau bahkan ke masjid agung sekalipun.

Kata Jawa yg disini dimaknai “ngujarke hawa”, menunjukkan adanya hawa/nafsu kita akan melihat sudut cerita sandal dan masjid sebagai objek nafsu atau sebagai subyek hawa.
Sebuah elegi, menemani untuk memilih ujaran kita bersamaan dg saat menggelindingnya purnama.

@ndalem bedog. GSW, 15 september 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*